div id='fb-root'/>

Pages

Kamis, 07 Oktober 2010

Ikhlas dan Sidq

Orang mungkin akan sangat mudah mengatakan bahwa saya ikhlas, namun sedikit orang yang faham tentang arti dan makna ikhlas. para ulama sering sekali menganjurkan agar dalam beribadah kepada sang khalik kita harus ikhlas agar ibadah kita tidak sia-sia. lalu bagaimana kriteria ikhlas itu?
Menurut Ulama mesir terkenal bernama Hasan Al Bana mendefinisikan bahwa ikhlas adalah seluruh ucapan, perbuatan dan perjuangan seorang aktifis muslim selalu ditujukan dan dimaksudkan hanya kepada Allah Ta'ala semata, juga kebaikan Ganjaran-Nya. Tidak mengharap imbalan apapun, baik berupa harta , tahta, martabat dan kedudukan, tanpa melihat maju mundurnya perkembangan dakwahnya. 
Dengan demikian ia telah menjadi seorang "jundi"(prajurit) baik secara intelektual maupun akidah, bukan seorang jundi yang mencari imbalan dan manfaat, sepeti yang difirmankan Allah SWT dalam al-Qur'an ;
"katakanlah: "Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, tuhan semesta alam" (QS.Al-An'am: 162).
Dengan demikian, seorang aktifis muslim selalu memahami doktrin"Allah tujuan kami" dan "Allah Maha Besar dan bagi-Nya segala puja dan puji". 

Banyak orang berharta dengan banyak hutang. banyak lagi orang miskin dengan banyak hutang. Ada orang kaya amal dengan banyak tuntutan yang harus dilunasinya di hari pembalasan. Ada orang yang sangat sederhana dalam beramal, dengan ketulusan tiada tara. Pujian tak membuatnya bertambah gairah dan celaan tak menghambatnya dari meningkatkan amal kebajikan. Ia ada ditengah keramaian da jiwanya sendiri menghadap Khaliqnya, tanpa berharap dan peduli terhadap penilaian manusia. 
Seorang ulama besar Hasan Al-Basri mencurahkan kebeningan hatinya di zaman yang rasanya begitu perlu penjernihan"tak ada lagi yang tersisa dari kenikmtan hidup kecuali tiga hal ; 
1. saudara yang selalu kau dapatlkan kebaikannya, bila kau menyimpang ia akan meluruskanmu
2. Shalat dalam keterhimpunan (jasad, hati dan fikiran) kau terlindngi dari melupaknnya dan kau penuh meliput ganjarannya.
3. Cukuplah kebahagian hidup dicapai , bila kelak tak seorang pun punya celah menuntutmu di hari kiamat.

Ketika seorang beramal , tanpa berpikir apa keuntungan yang baka ia dapati, maka ia disebut mukhlis, artinya orang yang sepenh hati tanpa pamrih duniawi. Pada saat ia mendapatkan dorongan beramal tanpa ingat apapun kecuali ridhlo Allah, ia menjadi mukhlas, artinya orang yang dijadikan mukhlis. Ada orang yang hanya melihatnya, itu cukup mmbuatmu ingat kepada Allah, bicaranya cukup menambah amalmu dan amalnya cukup membuatmu rindu akhirat. 

         Hati tanpa Jelaga
Hati bening seorang alim laksana gelas kristal yang bening dan bersih, akan memancarkan cahaya ilmunya. sementara ada orang yang detik demi detik tutur kata, karya dan kehadiranya menjerumuskan ke jurang sengsara. 
Sulit untuk mendapatkan hati yang bening danamal yang ikhlas tanpa kejujuran. kejujuran yan sering diartikan dengan sekedar bicara benar, ternyata lebih dari itu. Ia adalah kejujuran terhadap sang khaliq. ia adalah kejujuran terhadap bisikan hati nurani. Pada akhirnya bukti kebenaran itu akan nampak dalam sikap kejujuran mereka kepada Allah atas semua janji yang mereka buat. "Sedikitpun tidak mengubah pendirian mereka, apakah mereka itu Gugur terlebih dulu atau menunggu."(QS. 33:23). 
hakekat sidq bahwa engkau tetap jujur dalam berbagai kondisi (sulit dan bahaya), padahal engkau hanya dapat selamat dari hal tersebut hanya dengan berdusta, demikian prinsip Junaid Al Bagdadi. Tentu saja ini tidak boleh bertentangan dengan penghapusan hukum dusta dalam kondisi penyelamatan saudara beriman dari kezaliman orang lain,mendamaikan dua saudara yang berseteru dan dusta dalam taktik bertempur. 
Betapa mengerikan kemiskinan hati bila melanda kaum berilmu. Mereka merasa rendah diri karena dunia yang tak berpihak, berseberangan dengan posisi tinggi dan jauh dari kedudukan basah. Mungkin ia telah lupa, kemiskinan itu bukanlah dosa, walau tidak menyenangkan. Mungkin karena pentingnya mengenal profil biang kerok ini, sampai-sampai Al-Qur'an membuka kisahnya dengan "Bacakan kepada mereka", dan menutupnya dengan "Maka ceritakan kisah-kisah ini, semoga mereka berfikir"(Q.S 7; 175-176)

Ikhlas dan Sidq
Sangat mengagumkan sekali  bila kita cermati hubungan antara ikhlas dan sidq. Ikhlas artinya menjaga diri dari perhatian mahluk dan sidq artinya menjaga diri dari perhatian nafsu. Seorang mukhlis tak punya riya' (pamer diri) dan seorang sidiq menjaga diri dari perhatian nafsu dan kagum diri. 


Sumber; untukmu kader dakwah, pustaka dakwatuna




Artikel Lain Yang Mungkin Anda Cari:



Comments
0 Comments
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...