Pages

Rabu, 04 Januari 2012

Renungan Awal tahun 2012


Kutipan Arti Surat 89 (al-Fajr)  4 ayat terakhir ..
  

Hai Jiwa yang tenang
Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya
Maka masuklah ke dalam jama`ah hamba-hamba-Ku
dan masuklan ke dalam surga-Ku


Sungguh indah untaian ayat Allah dalam surat Al-Fajr ini. Panggilan ini hanya ditujukan kepada jiwa-jiwa yang memiliki ketenangan (Nafsul Muthmainnah), seperti apakah jiwa-jiwa yang tenang itu?Apakah kita termasuk dalam kategori jiwa yang tenang itu?
sudahkah kita mempersiapkan jiwa kita agar ketika kita dipanggil jiwa kita sudah tenang dan siap untuk masuk dalam jamaah hamba-hamba-Nya?Sudahkah kita mempersiapkan jiwa-jiwa kita agar kita bisa masuk kedalam surga-Nya?

Dalam perspektif psikologis bahwa jiwa yang sehat dalam bentuknya yang paling sempurna adalah terciptanya “ketenangan” dan kestabilan dalam diri seseorang sehingga menumbuhkan kepribadian yang normal .


Konsep Islam Mengenai Ketenangan
Di antara karakteristik ketenangan menurut Islam yang paling umum dan paling utama adalah “berketuhanan” (rabbaniyah). Manusia bias disebut “rabbani” jika dia mempunyai hubungan yang dekat dengan Allah, mengetahui agama dan kitab-Nya serta mengajarkannya. Di dalam Al-Qur’an disebutkan,
“Akan tetapi hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al-Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.” (Ali Imran: 79)
Di sini yang dimaksudkan dengan "rabbani" (berketuhanan) mencakup dua hal yaitu:3
1. Rabbani dalam tujuan dan arah
2. Rabbani dalam sumber dan jalan
Yang dimaksud dengan rabbani dalam maksud dan tujuan adalah bahwa Islam menjadikan tujuan akhir dan sasaran utamanya adalah hubungan yang baik dengan Allah dan mendapatkan ridha-Nya. Inilah tujuan Islam, yang kemudian menjadi tujuan, arah, dan cita-cita akhir manusia dalam kehidupan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, 
“Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya” (Al-Insyiqaq: 6).
“Dan bahwasanya kepada Tuhanmulah kesudahan (segala sesuatu),” (An-Najm: 42).
Memang bukan hal yang perlu diperdebatkan lagi bahwa Islam juga mempunyai tujuan dan sasaran lain yang bersifat kemanusiaan dan sosial. Sekalipun demikian ketika kita renungkan lebih jauh, kita akan menemukan bahwa pada dasarnya tujuan-tujuan ini adalah penunjang bagi tujuan pokok yaitu untuk mencapai keridhaan Allah dan mendapat balasan yang baik dari-Nya. Ini adalah tujuan utama atau sasaran pokok Islam. Dalam Islam ada sekian banyak mu’amalah, akan tetapi yang dimaksud dengan mu‘amlah tersebut adalah untuk mengatur kehidupan manusia sampai mereka bisa terlepas dari beban dan terbebas dari konflik yang diakibatkan oleh kesenangan yang hina, dan dengan itu mereka bisa beribadah kepada Allah secara murni dan berupaya untuk mendapatkan keridhaannya.

Jadi aspek ketenangan itu didapat oleh orang-orang yang mempunyai nilai robbani dalam jiwanya. Nilai rabbani ini yang tidak dimiliki orang-orang yang menargetkan jiwanya menjadi penghamba dunia. Jika dunia yang menjadi tujuannya maka jiwa yang tenang tidak akan didapatkan, malah sebaliknya yang ada kekacaun jiwa yang akan timbul.


JIWA YANG TENANG, WAJAH AKAN BERSERI

Abu Yazid Al Busthami, pelopor sufi, pada suatu hari pernah didatangi seorang lelaki yang wajahnya kusam dan keningnya selalu berkerut. Dengan murung lelaki itu mengadu,"Tuan Guru, sepanjang hidup saya, rasanya tak pernah lepas saya beribadah kepada Allah. Orang lain sudah lelap, saya masih bermunajat. Isteri saya belum bangun, saya sudah mengaji. Saya juga bukan pemalas yang enggan mencari rezeki. Tetapi mengapa saya selalu malang dan kehidupan saya penuh kesulitan?" Sang Guru menjawab sederhana, "Perbaiki penampilanmu dan rubahlah roman mukamu. Kau tahu, Rasulullah adalah penduduk dunia yang miskin namun wajahnya tak pernah keruh dan selalu ceria.

Sebab menurut Rasulullah, salah satu tanda penghuni neraka ialah muka masam yang membuat orang curiga kepadanya." Lelaki itu tertunduk. Ia pun berjanji akan memperbaiki penampilannya. Wajahnya senantiasa berseri. Setiap kesedihan diterima dengan sabar, tanpa mengeluh. Alhamdullilah sesudah itu ia tak pernah datang lagi untuk berkeluh kesah. Keserasian selalu dijaga. Sikapnya ramah,wajahnya senantiasa mengulum senyum bersahabat. Roman mukanya berseri. Tak heran jika Imam Hasan Al Basri berpendapat, awal keberhasilan suatu pekerjaan adalah roman muka yang ramah dan penuh senyum.

Bahkan Rasulullah menegaskan, senyum adalah sedekah paling murah tetapi paling besar pahalanya.

Demikian pula seorang suami atau seorang isteri. Alangkah celakanya rumah tangga jika suami isteri selalu berwajah tegang. Sebab tak ada persoalan yang diselesaikan dengan mudah melalui kekeruhan dan ketegangan. Dalam hati yang tenang, pikiran yang dingin dan wajah cerah, Insya Allah, apapun persoalannya nes caya dapat diatasi. Inilah yang dinamakan keluarga sakinah, yang didalamnya penuh dengan cinta dan kasih sayang.


Awal tahun yang bisa membuat jiwa tenang

bagaimana pengaruh jiwa kita untuk menyambut awal tahun masehi ini? banyak orang yang justru kontraproduktif dalam menyikapi awal tahun. Seharusnya awal tahun digunakan untuk  menyusun strategi dan langkah langkah ke depan justru dipakai untuk kegiatan hura-hura. bahkan ada yang berujung pada kematian karena histeria menyambut tahun baru...

Ketenangan jiwa yang seharusnya dipersiapkan untuk menyusun langkah-langkah pasti dalam menghadapi masa depan justru digunakan untuk kegiatan yang tidak pasti. ketika even tahun baru sudah lewat maka yang tersisa hanya kelelahan dan kecapekan. strategi yang seharusnya dapat memberikan ketenangan jiwa malah dipakai untuk mengejar ambisi dunia. akhirnya kebanyakan orang akan terbawa pada jiwa-jiwa yang selalu gelisah menghadapi masa depan. jiwa-jiwa yang selalu ketakutan ketika dia tidak mendapatkan hasil yang diharapkan. Jarang orang yang mempersiapkan jiwanya untuk Rabnya, kecuali hamba-hamba-Nya yang mau dan selalu memikirkan bagaimana membuat dirinya lebih dekat dan mencintai-Nya dengan penuh ke ikhlasan.Orang orang ini yang mau memikirkan bagaimana memperbaiki diri dan mengajak orang lain untuk kembali kepada Rab-Nya dan berjamaah untuk taat kepada-Nya. orang-orang seperti ini yang siap untuk memenuhi seruan-Nya untuk masuk ke dalam surga-Nya.






Jumat, 12 Agustus 2011

Hidup dan Perubahan

Orang yang mau hidup maka ia harus berubah dan bergerak. ibarat air, kalau ia diam maka akan banyak penyakit yang timbul didalamnya. Sesuai dengan sunatullah maka yang namanya mahluk hidup harus tumbuh dan berkembang, jika kita tidak seperti itu maka kita dikatakan mati. Jadi orang yang tetap mau hidup maka ia harus begerak mencari rejeki karunia Allah swt.Yakinlah segala langkah dan gerakmu itu dilandasi oleh iman yang kuat akan ke maha murahan Allah swt. Jika Allah saja memberi rejeki pada seekor nyamuk, maka apakah manusia tidak yakin bahwa ia di jamin rejekinya oleh Allah, aslakan ada syarat ia harus bergerak dan mau berubah. karena Allah tidak akan memberi rejeki Nya secara tiba-tiba, turun dari langit.
salah satu kunci untuk kita tetap bergerak adalah pola pikir kita.Dibawah ini ada motivasi dari motivator indonesia Andriwongso yang saya anggap sangat bagus untuk kita baca, kita renungkan dan kita amalkan.

Asset No. 1 - Kunci Sukses
Agus Riyanto
Semua dari kita, dilahirkan dengan dibekali anugerah yang sama oleh Sang Pencipta, dari ujung rambut sampai ujung kaki. Ada yang sempurna, ada juga yang tidak sempurna. Tapi ada satu anugerah Yang Maha Kuasa yang pasti diberikan pada makhluknya yang bernama manusia, walau seperti apa pun bentuk fisik kita. Dengan anugerah itu kita bisa mengubah diri kita, keluarga, lingkungan, bahkan juga dunia.

Anugerah itu adalah asset terbaik kita. Yang menentukan hitam putih hidup kita, yang menentukan baik atau buruk diri kita. Ia bisa menjadi tambang emas bagi kita, tapi juga bisa menjadi sumber bencana bila tidak dirawat dan dikendalikan sebagaimana mestinya,

Asset tersebut bukanlah rumah, mobil, uang atau kekayaan kita, bukan juga gelar akademis kita. Tidak lain dan tidak bukan, asset itu adalah pikiran kita, berada dalam diri kita sejak lahir, bukan didapat setelah dewasa dengan gelar berjajar.

Pikiran kita laksana satu hektar tanah yang dapat kita tanami padi atau ilalang. Tapi malangnya, sudah menjadi sifat manusia untuk menumbuhkan ilalang jika ia tidak berupaya menanam padi, benih kebahagiaanya sendiri. Dan layaknya sebidang tanah, jika tidak diolah, disemai, diairi, diberi pupuk, dan disiangi sebagaimana seharusnya, maka yang tumbuh subur pastilah ilalang. Pepatah juga berkata, "Jika kamu menanam padi, pasti rumput akan tumbuh. Tapi jika kamu menanam rumput, jangan mimpi padi akan tumbuh".

Pikiran kita juga seperti pabrik yang dapat menghasilkan pikiran positif ataupun negatif. Hanya kitalah yang dapat mengendalikan dan memutuskan pikiran yang bagaimana yang akan kita hasilkan. Bagi mereka yang ingin bahagia, mereka melatih pikiran mereka untuk menciptakan pikiran yang bahagia. Bagi mereka yang ingin sukses, mereka melatih pikirannya untuk berpikir sukses dan mereka pun jadi orang yang sukses. Tapi bagi orang yang berpikiran sedih dan merana, kesedihan jualah yang mereka temukan dalam kehidupan nyata.

Pilihan ada di tangan kita, apakah kita akan menanam padi atau ilalang, apakah kita akan berpikiran positif atau justru sebaliknya. Hasilnya juga kita yang akan menikmatinya sendiri. Bukan orang lain yang menentukan nasib dan kesuksesan kita, melainkan diri kita sendiri. Berpikir miskin, tetap miskin. Berpikir kaya, tetap kaya!

Jika kita memikirkan sesuatu yang membahagiakan, kita akan bahagia. Jika kita memikirkan sesuatu yang menyedihkan , kita akan sedih. Jika kita memikirkan sesuatu yang menakutkan, kita akan ketakutan.

Napoleoan Hill, seorang yang meneliti dan merumuskan filosofi kesuksesan hidup berkata, "Kalau Anda membuat pikiran Anda bekerja dengan sikap mental positif dan percaya bahwa kesuksesan itu adalah hak Anda, maka kepercayaan Anda akan membawa anda tanpa salah ke arah apa saja yang mungkin merupakan definisi kesuksesan Anda. Kalau Anda menerima sikap mental negatif dan mengisi otak Anda dengan pemikiran rasa takut dan kekecewaan, maka otak Anda hanya akan menarik hal-hal yang semacam itu ke arah Anda." Bukunya yang sangat terkenal, "Think and Grow Rich" (=Berpikir dan Menjadi Kaya), bukan Kuliah dan Menjadi Kaya, atau Menabung dan Menjadi Kaya.

Selamat memberdayakan asset no.1 Anda yang luar biasa!
Sukses selalu untuk kita!
 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...