div id='fb-root'/>

Pages

Selasa, 21 Desember 2010

Cerita tentang Guru Profesional

SEKELUMIT PENGALAMAN SAYA DALAM UPAYA TERUS-MENERUS UNTUK
MENJADI GURU PROFESIONAL
Penulis : Zainal Abidinb (Artikel ini diikutkan dalam Lomba Penulisan Artikel Pendidikan untuk Guru Se-Indonesia ISPI Jawa Tengah 2010) 

Bismillahirrahmanirrahim 
I. Pendahuluan 
Tulisan ini saya awali dengan penggalan catatan singkat perjalanan kegiatan saya sebagai guru. Tahun 1992 saya mulai menjadi guru di SMAN 3 Bandar Lampung. Saya lulusan D3 Pendidikan Fisika dari FKIP Universitas Lampung. Pada1996 saya mengikuti program penyetaraan S1 selama satu tahun di tempat yang sama pada waktu mengikuti pendidikan D3. Selama lebih kurang tujuh tahun saya  melaksanakan proses pembelajaran baik di ruang kelas atau di laboratorium. Saya bergaul dengan rekan-rekan guru,siswa-siswi dan anggota masyarakat sekolah lainnya sambil terus menambah pengetahuan tentang proses pembelajaran secara otodidak. Sesekali mendapat tugas mengikuti pelatihan untuk guru yang ditunjuk oleh pihak sekolah.
Pada 1999, sepengetahuan saya hanya ada satu warnet di kota tempat sekolah saya berada. Pada hari minggu saya mengajak siswa-siswi saya untuk belajar dengan internet di warnet itu. Pada waktu itu saya tidak punya komputer dan di sekolah saya hanya ada sekitar sepuluh komputer. Saya belajar komputer secara otodidak dan tidak pernah kursus komputer. Keinginan saya untuk terus belajar tentang teknologi informatika dan komunikasi terus menyala dan ternyata  pada 2002 saya menjadi pemakalah pada Simposium Nasional I Inovasi Pembelajaran dan Pengelolaan Sekolah di Jakarta bersama dua orang guru dari Lampung. Selanjutnya, saya senang mengikuti kegiatan-kegiatan yang dapat menambah pengetahuan saya dan berkomunikasi via email dan berbagai komunitas di internet dengan para ahli serta menjalin komunikasi dengan sesama guru dan teman-teman di seluruh dunia. Dari sini, saya mulai merefleksi tentang peran guru di sekolah maupun di masyarakat. Saya berinovasi dalam pembelajaran dan saya pernah tuangkan dalam bentuk penelitian tindakan kelas dan mendapat penghargaan sebagai juara dua tingkat provinsi Lampung yang diselenggarakan oleh LPMP Lampun bulan Desember 2008. Selain sebagai anggota PGRI Bandar Lampung, saya menjadi Pengurus Asosiasi Guru Fisika (AGFI) Pusat Jakarta dan Pengurus AGFI Wilayah Lampung. Bersama rekan-rekan guru fisika di Lampung, saya pernah mengadakan Seminar dan Diklat Nasional Fisika Gasing (Gampang, Asyik dan Menengkan), 15 Nopember 2008.Bulan Desember 2009 saya lulus sertifikasiguru dan sampai saat ini dan semoga seterusnya saya berharap diberikan kesempatan dan kemampuan untuk selalu bekerja dan memperbaiki pekerjaan saya sebagai guru. Dari sepenggal cacatan di atas, saya ingin menuliskan refleksi saya tentang pendidikan, sekolah dan profesionalisme guru dengan mencari evidensi dan relevaansi di dalamnya. Tulisan diakhiri dengan penutup yang merupakan simpulan tulisan.
II. Pendidikan 
Negara yang tergolong maju adalah negara yang pendidkannya maju pula, dan demikian sebaliknya. Jadipendidikan menopang kemajuan bangsa itu. Hal ini dimungkinkan karena selain mampu menghasilkan the best minds,pendidikan di negeri itu memiliki relevansi yang tinggi dengan kebutuhan masysrakatnya. Itulah sebabnya, mutu pendidikan yang rendah menjadi keprihatinan bangsa secara keseluruhan, bukan hanya kalangan tertentu yang terlibat langsung dalam proses pendidikan.1 Kita telah memasuki abad 21 yang dikenal dengan abad pengetahuan. Para peramal masa depan (futurist) mengatakan sebagai abad pengetahuan karena pengetahuan akan menjadi landasan utama segala aspek kehidupan.2 Abad pengetahuan merupakan suatu era dengan tuntutan yang lebih rumit dan menantang. Suatu era dengan spesifikasi tertentu yang sangat besar pengaruhnya terhadap dunia pendidikan dan lapangan kerja. Perubahan-perubahan yang terjadi selain karena perkembangan teknologi yang sangat pesat, juga diakibatkan oleh perkembangan yang luar biasa dalam ilmu pengetahuan, psikologi, dan transformasi nilai-nilai budaya. Dampaknya adalah perubahan cara pandang manusia terhadap manusia, cara pandang terhadap pendidikan, perubahan peran orang tua/guru/dosen, serta perubahan pola hubungan antar mereka. Perhatian utama pendidikan di abad 21 adalah untuk mempersiapkan hidup dan kerja bagi masyarakat.Tibalah saatnya menoleh sejenak ke arah pandangan dengan sudut yang luas mengenai peran-peran utama yang akan semakin dimainkan oleh pembelajaran dan pendidikan dalam masyarakat yang berbasis pengetahuan.2 Para ahli mengatakan bahwa abad 21 merupakan abad pengetahuan karena pengetahuan menjadi landasan utama segala aspek kehidupan. Sepuluh kecenderungan besar yang akan terjadi pada pendidikan di abad 21 yaitu: 
(1) dari masyarakat industri ke masyarakat informasi, 
(2) dari teknologi yang dipaksakan ke teknologi tinggi, 
(3) dari ekonomi nasional ke ekonomi dunia, 
(4) dari perencanaan jangka pendek ke perencanaan jangka panjang, 
(5) dari sentralisasi ke desentralisasi, 
(6) dari bantuan institusional ke bantuan diri, 
(7) dari demokrasi perwakilan ke demokrasi partisipatoris, 
(8) dari hierarki-hierarki ke penjaringan, 
(9) dari utara keselatan, dan 
(10) dari dan/atau ke pilihan majemuk. Berbagai implikasi kecenderungan di atas berdampak terhadap
dunia pendidikan yang meliputi aspek kurikulum, manajemen pendidikan, tenaga kependidikan, strategi dan metode pendidikan. 

Selanjutnya, ada 8 kecenderungan besar di Asia yang ikut mempengaruhi dunia yaitu3: (1) dari negara
bangsa ke jaringan, (2) dari tuntutan eksport ke tuntutan konsumen, (3) dari pengaruh Barat ke cara Asia, (4) dari kontol
pemerintah ke tuntutan pasar, (5) dari desa ke metropolitan, (6) dari padat karya ke teknologi canggih, (7) dari dominasi
kaum pria ke munculnya kaum wanita, (8) dari Barat ke Timur. Kedelapan kecenderungan itu akan mempengaruhi tata
nilai dalam berbagai aspek, pola dan gaya hidup masyarakat baik di desa maupun di kota. Pada gilirannya semua itu
akan mempengaruhi pola-pola pendidikan yang lebih disukai dengan tuntutan kecenderungan tersebut. Dalam
hubungan dengan ini pendidikan ditantang untuk mampu menyiapkan sumber daya manusia yang mampu menghadapi
tantangan kecenderungan itu tanpa kehilangan nilai-nilai kepribadian dan budaya bangsanya. Berdasarkan
kecenderungan di atas, pendidikan di Indonesia di abad 21 mempunyai karakteristik sebagai berikut4:  
(1) Pendidikan
nasional mempunyai tiga fungsi dasar yaitu; (a) untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, (b) untuk mempersiapkan
ISPI - Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia
http://ispi.or.id Menggunakan Joomla! Generated: 29 April, 2010, 00:49
tenaga kerja terampil dan ahli yang diperlukan dalam proses industrialisasi, (c) membina dan mengembangkan
penguasaan berbagai cabang keahlian ilmu pengetahuan dan teknologi; (2) Sebagai negara kepulauan yang berbedabeda
suku, agama dan bahasa, pendidikan tidak hanya sebagai proses transfer pengetahuan saja, akan tetapi
mempunyai fungsi pelestarian kehidupan bangsa dalam suasana persatuan dan kesatuan nasional; (3) Dengan makin
meningkatnya hasil pembangunan, mobilitas penduduk akan mempengaruhi corak pendidikan nasional; (4) Perubahan
karakteristik keluarga baik fungsi maupun struktur, akan banyak menuntut akan pentingnya kerja sama berbagai
lingkungan pendidikan dan dalam keluarga sebagai intinya. Nilai-nilai keluarga hendaknya tetap dilestarikan dalam
berbagai lingkungan pendidikan; (5) Asas belajar sepanjang hayat harus menjadi landasan utama dalam mewujudkan
pendidikan untuk mengimbangi tantangan perkembangan jaman; (6) Penggunaan berbagai inovasi Iptek terutama media
elektronik, informatika, dan komunikasi dalam berbagai kegiatan pendidikan, (7) Penyediaan perpustakaan dan sumbersumber
belajar sangat diperlukan dalam menunjang upaya pendidikan dalam pendidikan; (8) Publikasi dan penelitian
dalam bidang pendidikan dan bidang lain yang terkait, merupakan suatu kebutuhan nyata bagi pendidikan di abad
pengetahuan. Dari kecenderungan-kecenderungan di atas perlunya dipahami aspek-aspek yang penting dalam
system pendidikan. Sistem pendidikan modern mencakup beberapa aspek sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 2.5
Tabel 2. Aspek-aspek pendidikan modern Aspek Pendidikan Modern informasi dan
kesadaranperlindungan dan tata kelolatata pengetahuanperdamaian dan kesetaraankontek
lokaltransformasi budayaisu dan tema lintas bidangkesehatanpendidikan lingkungan 11. kepemimpinan
Kesebelas aspek pendidikan di atas merupakan hal yang perlu mendapat perhatian dalam dunia pendidikan secara
keseluruhan sehingga terwujud pendidikan yang dapat menjawab tantangan zaman bagi peserta didik. III. Sekolahc
HAKIKAT pendidikan adalah mengubah budaya. Apa yang sering dilupakan banyak orang adalah sekolah-sekolah kita
telah memiliki budaya sekolah (school culture), yaitu seperangkat nilai-nilai, kepercayaan, dan kebiasaan yang sudah
mendarah daging dan menyejarah sejak negara ini merdeka. Tanpa keberanian mendobrak kebiasaan ini, apa pun
model pendidikan dan peraturan yang diundangkan, akan sulit bagi kita untuk memperbaiki mutu pendidikan. Sedikitnya,
ada empat tradisi yang membatu selama ini: (1) orang tua menganggap sekolahlah yang bertanggung jawab mendidik
siswa, (2) orang tua percaya bahwa program IPA lebih bergengsi daripada program IPS bagi anak mereka, (3) orang tua
percaya bahwa sekolah kejuruan kurang bergengsi, (4) masyarakat percaya bahwa gelar ke(pasca)sarjanaan
merupakan simbol status sosial. Wacana pendidikan kita kini diperkaya oleh seperangkat kosakata yang maknanya
berimpitan: sekolah percontohan, sekolah percobaan, sekolah unggul, sekolah akselerasi, dan sejenisnya. Dalam
literatur internasional, semua itu lazim disebut lab school, effective school, demonstration school, experiment school atau
accelerated school, dan sekolah-sekolah pun diiklankan dengan atribut-atribut magnetis itu. Senarai kosakata itu tidak
persis bersinonim. Ada nuansa kekhasan pada masing-masing. Dari semua itu, kosa kata yang paling lazim dipakai
adalah effective school atau sekolah unggul yang didasarkan atas keyakinan bahwa siswa; apa pun etnis, status
ekonomi, dan jenis kelaminnya, akan mampu belajar sesuai dengan tuntutan kurikulum. Pendekatan yang ditempuh
adalah perencanaan secara kolaboratif antara guru, administrator, orang tua, dan masyarakat. Data prestasi siswa
dijadikan basis untuk perbaikan sistem secara berkelanjutan. Sekolah unggul demikian memiliki sejumlah correlate atau
ciri pembeda (tanda-tanda) sebagai berikut. Pertama, visi dan misi sekolah yang jelas. Mayoritas sekolah kita belum
mampu mengartikulasikan visi dan misinya. Visi adalah pernyataan singkat, mudah diingat, pemberi semangat, dan obor
penerang jalan untuk maju melejit. Misalnya, "SMA berbasis komputer", "SD berbasis kelas kecil", "SMP berbasis IST
(information system technology)", "SMK bersistem asrama", "aliah dengan pengantar tiga bahasa", dan sebagainya.
Konsep iman dan takwa (imtak) dan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) selama ini terlalu sering dipakai sehingga
maknanya tidak jelas, mengawang-awang, filosofis, dan tidak operasional. Misi adalah dua atau tiga pernyataan sebagai
operasionalisasi visi, misalnya "membangun siswa yang kreatif dan disiplin", dan sebagainya. Walau begitu, ada
prioritas yang diunggulkan dalam rentang zaman secara terencana. Prioritas ini dinyatakan eksplisit dalam rencana kerja
tahunan sekolah. Untuk mengimplementasikan visi dan misi sekolah, ada sejumlah langkah yang mesti ditempuh: (1)
pahami kultur sekolah, (2) hargai profesi guru, (3) nyatakan apa yang Anda hargai, (4) perbanyak unsur yang Anda
hargai, (5) lakukan kolaborasi dengan pihak-pihak terkait, (6) buat menu kegiatan bukan mandat, (7) gunakan birokrasi
untuk memudahkan bukan untuk mempersulit, dan (8) buatlah jejaring (networking) seluas mungkin. Kedua, komitmen
tinggi untuk unggul. Staf administrasi, guru, dan kepala sekolah memiliki tekad yang mendidih untuk menjadikan
sekolahnya sebagai sekolah unggul dalam segala aspek, sehingga semua siswa dapat menguasai materi pokok dalam
kurikulum. Semuanya memiliki potensi untuk berkontribusi dalam proses pendidikan. Komitmen ini adalah energi untuk
mengubah budaya konvensional (biasa-biasa saja) menjadi budaya unggul. Membangun komitmen bersama adalah
langkah awal dan penting untuk memulai proses menuju sekolah unggul. Ketiga, kepemimpinan yang mumpuni. Kepala
sekolah adalah sentral sekolah. Kepala sekolah adalah "pemimpin dari pemimpin", bukan "pemimpin dari pengikut".
Artinya, selain kepala sekolah, ada pemimpin dalam lingkup kewenangannya sehingga tercipta proses pengambilan
keputusan bersama (shared decision making). Komunikasi terus-menerus dilakukan antara kepala sekolah dan para
guru untuk memahami budaya dan etos sekolah yang yang diimpikan lewat visi sekolah itu. Bila tidak dikomunikasikan
terus-menerus, visi itu akan mati sendiri. Guru juga adalah pemimpin dengan kualitas sebagai berikut: (1) terampil
menggunakan model mengajar berdasarkan penelitian; (2) bekerja secara tim dalam merencanakan pelajaran, menilai
siswa, dan dalam memecahkan masalah; (3) sebagai mentor bagi koleganya; (4) mengupayakan pembelajaran yang
efisien; dan (5) berkolaborasi dengan orang tua, keluarga, dan anggota masyarakat lain demi pembelajaran siswa.
Keempat, kesempatan untuk belajar dan pengaturan waktu yang jelas. Semua guru mengetahui apa yang mesti
diajarkan. Alokasi waktu yang memadai dan penjadwalan yang tepat sangat berpengaruh bagi kualitas pengajaran. Guru
memanfaatkan waktu yang tersedia semaksimal mungkin demi penguasaan keterampilan asasi. Dalam hal ini, perlu
dijaga keseimbangan antara tuntutan kurikulum dengan ketersediaan waktu. Kunci keberhasilan dalam hal ini adalah
mengajar dengan niat akademik yang jelas dan siswa pun mengetahui niat itu. Mengajar yang berkualitas memiliki ciri
ISPI - Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia
http://ispi.or.id Menggunakan Joomla! Generated: 29 April, 2010, 00:49
sebagai berikut: (1) organisasi pembelajaran yang efisien, (2) tujuan yang jelas, (3) pelajaran yang terstruktur, dan (4)
praktek mengajar yang adaptif dan fleksibel. Kelima, lingkungan yang aman dan teratur. Sekolah unggul bersuasana
tertib, bertujuan, serius, dan terbebas dari ancaman fisik atau psikis, tidak oppressive tetapi kondusif untuk belajar dan
mengajar. Siswa diajari agar berperilaku aman dan tertib melalui belajar bersama (cooperative learning), menghargai
kebhinekaan manusiawi, serta apresiasi terhadap nilai-nilai demokratis. Banyak penelitian menunjukkan bahwa suasana
sekolah yang sehat berpengaruh positif terhadap produktivitas, semangat kerja, dan kepuasan guru dan siswa. Keenam,
hubungan yang baik antara rumah dan sekolah. Para orang tua memahami visi dan misi sekolah. Mereka diberi
kesempatan untuk berperan dalam program demi tercapainya visi dan misi tersebut. Dengan demikian, sekolah tidak
hanya mendidik siswa, tetapi juga orang tua sebagai anggota keluarga sekolah yang dihargai dan dilibatkan. Dengan
melibatkan mereka pada kegiatan ekstra di akhir pekan (extraschool) misalnya, siswa sadar bahwa orang tuanya
menghargai kegiatan pendidikan sehingga mereka pun menghargai pendidikan yang dilakoninya. Inilah contoh konkret
hubungan tripartit sekolah-siswa-orang tua. Upacara-upacara yang dihadiri orang tua sesungguhnya merupakan
kesempatan untuk membangun citra sekolah dan untuk merayakan visi dan misi. Singkatnya, sekolah unggul
membangun "kepercayaan" dan silaturahmi sehingga masing-masing memiliki nawaitu tinggi untuk melejitkan prestasi.
Ketujuh, monitoring kemajuan siswa secara berkala. Kemajuan siswa dimonitor terus-menerus dan hasil pemonitoran itu
dipergunakan untuk memperbaiki perilaku dan performansi siswa dan untuk memperbaiki kurikulum secara keseluruhan.
Penggunaan teknologi, khususnya komputer, memudahkan dokumentasi hasil monitoring secara terus-menerus.
Evaluasi penguasaan materi pelajaran secara perlahan bergeser dari tes baku (standardized norm-referenced paperpencil
test) menuju tes berdasar kurikulum dan berdasar kriteria (curricular-based, criterion-referenced). Dengan kata
lain, evaluasi akan lebih berfokus pada performansi dan dokumentasi prestasi siswa sebagaimana terakumulasi dalam
portofolio. Dokumentasi prestasi ini bukan hanya untuk guru, tetapi juga untuk dikomunikasikan kepada orang tua.
Sekolah sebagai sistem juga dimonitor secara berkelanjutan. Artinya, sekolah tidak hanya terampil memonitor kemajuan
siswa, tetapi juga siap mengevaluasi dirinya sendiri. Hasil evaluasi diri ini merupakan bahan bagi pihak lain (external
avaluators) untuk mengevaluasi kinerja sekolah itu. Inilah makna akuntabilitas publik. Sekolah harus mengagendakan
program rujuk mutu (benchmarking) kepada sekolah lain, sehingga sadar akan kelebihan dan kekurangan sendiri. Model
sekolah unggul seperti digambarkan di atas akan berwujud bila sekolah tidak eksklusif bak menara gading, tetapi
tumbuh sebagai bagian dari masyarakat sehingga memiliki kepekaan terhadap nurani masyarakat (a sense of
community). Dalam masyarakat, setiap individu berhubungan dengan individu lain, dan masing-masing memiliki potensi
dan kualitas yang dapat disumbangkan pada sekolah. Dalam era globalisasi dan pesatnya informasi tetapi juga dalam
keterpurukan multidimensi, khususnya ekonomi sekarang ini, kita merasakan keterbatasan dana dan menyaksikan
tuntutan yang semakin tinggi akan adanya otonomi sekolah, akuntabilitas publik dan tranparansi, serta adanya harapan
besar dari orang tua. Bila ketujuh tanda di atas dilaksanakan, pendidikan yang diselenggarakan sekolah akan
berdampak dahsyat pada pembentukan manusia yang unggul sekaligus berperan dalam pengembangan
profesionalisme guru. IV. Profesionalisme Guru Gambaran singkat pembelajaran di abad pengetahuan adalah sebagai
berikut. Praktek pembelajaran yang terjadi sekarang masih didominasi oleh pola atau paradigma yang banyak dijumpai
di abad industri. Pada abad pengetahuan paradigma yang digunakan jauh berbeda dengan pada abad industri.
Pendekatan pembelajaran yang digunakan pada abad pengetahuan adalah pendekatan campuran yaitu perpaduan
antara pendekatan belajar dari guru, belajar dari siswa lain, dan belajar pada diri sendiri. Praktek pembelajaran di abad
industri dan abad pengetahuan dapat dilihat pada Tabel 1 berikut.6 Tabel 1. Perbandingan praktek pembelajaran di
abad industri dengan abad pengetahuan. Abad Industri Abad Pengetahuan 1. Guru sebagai pengarah
2. Guru sbgai smber pengetahuan 3. Belajar diarahkan oleh kuri- kulum. 4. Belajar dijadualkan secara ketat dgn
waktu yang terbatas 5. Terutama didasarkan pd fakta 6. Bersifat teoritik, prinsip- prinsip dan survei 7.
Pengulangan dan latihan 8. Aturan dan prosedur 9. Kompetitif 10. Berfokus pada kelas 11. Hasilnya
ditentukan sblmnya 12. Mengikuti norma 13. Komputer sbg subyek belajar 14. Presentasi dgn media statis 15.
Komunikasi sebatas ruang kls 16. Tes diukur dengan norma 1. Guru sebagai fasilitator, pembimbing, konsultan
2. Guru sebagai kawan belajar 3. Belajar diarahkan oleh siswa kulum. 4. Belajar secara terbuka, ketat dgn waktu
yang terbatas fleksibel sesuai keperluan 5. Terutama berdasarkan proyek dan masalah 6. Dunia nyata, dan
refleksi prinsip dan survei 7. Penyelidikan dan perancangan 8. Penemuan dan penciptaan 9. Colaboratif 10.
Berfokus pada masyarakat 11. Hasilnya terbuka 12. Keanekaragaman yang kreatif 13. Komputer sebagai
peralatan semua jenis belajar 14. Interaksi multi media yang dinamis 15. Komunikasi tidak terbatas ke seluruh dunia
16. Unjuk kerja diukur oleh pakar, penasehat, kawan sebaya dan diri sendiri. Berdasarkan Tabel 1 dapat
diambil beberapa kesimpulan bahwa; 1. Pada abad industri banyak dijumpai belajar melalui fakta, drill dan praktek, dan
menggunakan aturan dan prosedur-prosedur. Sedangkan di abad pengetahuan menginginkan paradigma belajar
melalui proyek-proyek dan permasalahan-permasalahan, inkuiri dan desain, menemukan dan penciptaan. 2 Betapa
sulitnya mencapai reformasi yang sistemik, karena bila paradigma lama masih dominan, dampak reformasi cenderung
akan ditelan oleh pengaruh paradigma lama. 3. Meskipun telah dinyatakan sebagai polaritas, perbedaan praktik
pembelajaran Abad Pengetahuan dan Abad Industri dianggap sebagai suatu kontinum. Meskipun sekarang
dimungkinkan memandang banyak contoh praktek di Abad Industri yang "murni" dan jauh lebih sedikit contoh lingkungan
pembelajaran di Abad Pengetahuan yang "murni", besar kemungkinannya menemukan metode persilangan perpaduan
antara metode di Abad Pengetahuan dan metode di Abad Industri. Perlu diingat dalam melakukan reformasi
pembelajaran, metode lama tidak sepenuhnya hilang, namun hanya digunakan kurang lebih jarang dibanding metodemetode
baru. 4. Praktek pembelajaran di Abad Pengetahuan lebih sesuai dengan teori belajar modern. Melalui
penggunaan prinsip-prinsip belajar berorientasi pada proyek dan permasalahan sampai aktivitas kolaboratif dan
difokuskan pada masyarakat, belajar kontekstual yang didasarkan pada dunia nyata dalam konteks ke peningkatan
perhatian pada tindakan-tindakan atas dorongan pembelajar sendiri. 5. Pada Abad Pengetahuan nampaknya praktek
ISPI - Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia
http://ispi.or.id Menggunakan Joomla! Generated: 29 April, 2010, 00:49
pembelajaran tergantung pada piranti-piranti pengetahuan modern yakni komputer dan telekomunikasi, namun
sebagian besar karakteristik Abad Pengetahuan bisa dicapai tanpa memanfaatkan piranti modern. Meskipun teknologi
informasi dan telekomunikasi merupakan katalis yang penting yang membawa kita pada metode belajar Abad
Pengetahuan, perlu diingat bahwa yang membedakan metode tersebut adalah pelaksanaan hasilnya bukan alatnya. Kita
dapat melengkapi peralatan lembaga pendidikan kita dengan teknologi canggih tanpa mengubah pelaksanaan dan
hasilnya. Akhirnya yang paling penting, paradigma baru pembelajaran ini memberikan peluang dan tantangan yang
besar bagi perkembangan profesional, baik pada preservice dan inservice guru. Di banyak hal, paradigma ini
menggambarkan redefinisi profesi pengajaran dan peran-peran yang dimainkan guru dalam proses pembelajaran.
Meskipun kebutuhan untuk merawat, mengasuh, menyayangi dan mengembangkan anak-anak kita secara maksimal itu
akan selalu tetap berada dalam genggaman pengajaran, tuntutan-tuntutan baru Abad Pengetahuan menghasilkan
sederet prinsip pembelajaran baru dan perilaku yang harus dipraktikkan. Berdasarkan gambaran pembelajan di abad
pengetahuan di atas, nampaklah bahwa pentingnya pengembangan profesi guru dalam menghadapi berbagai tantangan
ini. Pengembangan profesionalisme guru merupakan keniscayaan bagi proses pendidikan. Menurut para ahli,
profesionalisme menekankan kepada penguasaan ilmu pengetahuan atau kemampuan manajemen beserta strategi
penerapannya. Profesionalisme bukan sekadar pengetahuan teknologi dan manajemen tetapi lebih merupakan sikap,
pengembangan profesionalisme lebih dari seorang teknisi bukan hanya memiliki keterampilan yang tinggi tetapi memiliki
suatu tingkah laku yang dipersyaratkan.7 Ada empat standar standar pengembangan profesi guru yaitu8: (1) Standar
pengembangan profesi A adalah pengembangan profesi untuk para guru sains memerlukan pembelajaran isi sains yang
diperlukan melalui perspektif-perspektif dan metode-metode inquiri. Para guru dalam sketsa ini melalui sebuah proses
observasi fenomena alam, membuat penjelasan-penjelasan dan menguji penjelasan-penjelasan tersebut berdasarkan
fenomena alam; (2) Standar pengembangan profesi B adalah pengembangan profesi untuk guru sains memerlukan
pengintegrasian pengetahuan sains, pembelajaran, pendidikan, dan siswa, juga menerapkan pengetahuan tersebut ke
pengajaran sains. Pada guru yang efektif tidak hanya tahu sains namun mereka juga tahu bagaimana mengajarkannya.
Guru yang efektif dapat memahami bagaimana siswa mempelajari konsep-konsep yang penting, konsep-konsep apa
yang mampu dipahami siswa pada tahap-tahap pengembangan, profesi yang berbeda, dan pengalaman, contoh dan
representasi apa yang bisa membantu siswa belajar; (3) Standar pengembangan profesi C adalah pengembangan
profesi untuk para guru sains memerlukan pembentukan pemahaman dan kemampuan untuk pembelajaran sepanjang
masa. Guru yang baik biasanya tahu bahwa dengan memilih profesi guru, mereka telah berkomitmen untuk belajar
sepanjang masa. Pengetahuan baru selalu dihasilkan sehingga guru berkesempatan terus untuk belajar; (4) Standar
pengembangan profesi D adalah program-program profesi untuk guru sains harus koheren (berkaitan) dan terpadu.
Standar ini dimaksudkan untuk menangkal kecenderungan kesempatan-kesempatan pengembangan profesi
terfragmentasi dan tidak berkelanjutan. V. Penutup Pendidikan bertujuan sekurang-kurangnya bertujuan untuk: (1)
membuat setiap individu menikmati hak dan tanggung jawab, meningkatkan demokarsi, membentuk masyarakat yang
bertanggung jawab dan peduli, dan pentingnya falsafah pendidikan, (2) Memecahkan masalah global yang relevan,
seprti kemiskinan dan pembangunan, isu lingkungan, etika kesehatan, kesetaraan gender, keragaman budaya dan lainlain.
Sekolah merupakan peserta pengembangan pendidikan di samping orang tua, murid, pemerintah, lembaga
pendidikan formal, media, sector swasta, lembaga internasional, dan masyarakat madani (modern). Guru memegang
peranan penting dalam pengembangan peserta didik di sekolah. Guru professional, guru yang dapat memberi inspirasi9
bagi peserta didik untuk keberhasilan dan sukses dalam pendidikan, yaitu: agar siswa bertaqwa, berkepribadian matang,
berilmu mutakhir dan berprestasi, rasa kebangsaan dan berwawasan global.
Daftar Acuan 1 Supriadi, D. 1998. Mengangkat Citra dan Martabat Guru. Yogayakarta: Adicita Karya Nusa. 2 Trilling,
B. dan Hood, P. 1999. Learning, Technology, and Education Reform in the Knowledge Age or "We're Wired, Webbed,
and Windowed, Now What"? Educational Technology. May-June 1999. pp..5-18. 3 Naisbitt, J. 1995. Megatrend Asia:
Delapan Megatrend Asia yang Mengubah Dunia. (Alih bahasa oleh Danan Triyatmoko dan Wandi S. Brata): Jakarta:
Gramedia. 4 Surya, H.M. 1998. Peningkatan Profesionalisme Guru Menghadapi Pendidikan Abad ke-21 (I):
Organisasi & Profesi. Suara Guru No. 7/1998. h.15-17. 5 Hakim, AR. Adaptasi Sistem Pendidikan Negara Maju di
Indonesia. Seminar Nasional Pendidikan. Intitut pertanian Bogor. 16 September 2006. 6 Galbreath, J. 1999. Preparing
the 21st Century Worker: The Link Between Computer-Based Technology and Future Skill Sets. Educational
Technology. Nopember-Desember 1999. pp. 14-22. 7 Maister, DH. 1997. True Professionalism. New York: The Free
Press. 8 Stiles, K.E. dan Loucks-Horsley, S. 1998. Professional Development Strategies: Proffessional Learning
Experiences Help Teachers Meet the Standards. The Science Teacher. September 1998. pp. 46-49. NRC. 1996.
Standar for Professional Development for Science Teacher. pp.59-70 9 Secondary Futures Hoenga Auaha Taiohi.
Inspiring Teachers. http://www.secondaryfutures.co.nz.
Alhamdulillahirobbil ‘alamin - - - - - - - - - - - - - - - - - - a Artikel diajukan pada Lomba Penulisan Artikel pada
acara SEMINAR NASIONAL DAN LOMBA PENULISAN ARTIKEL ISPI JATENG 2010 dengan tema Pengalamanku
Menjadi Guru yang Inovatif dan Profesional, 23 Januari 2010. b Guru SMAN 3 Bandar Lampung, Jl. Khairil Anwar 30
Bandar Lampung, Lampung 35116, Telp: 0721-255600, Fax: 0721-253287, email: zay.abidin@gmail.com. C
Sebagian besar dikutip langsung artikel penulis: Zainal Abidin. Tujuh Tanda Sekolah Unggul.
http://www.lampungpost.com/cetak/berita.php?id=2009091907205422i
ISPI - Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia
http://ispi.or.id Menggunakan Joomla! Generated: 29 April, 2010, 00:49



Artikel Lain Yang Mungkin Anda Cari:



Comments
0 Comments
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...